Kamis, 03 Oktober 2013

Resensi Seandainya... – Windhy Puspitadewi


Seandainya... - Windhy Puspitadewi
Judul               : Seandainya...
Penulis             : Windhy Puspitadewi
Penerbit           : Gagas Media
Tebal               : 226 halaman
Tahun Terbit    : 2012
ISBN               : 9789797805685

SINOPSIS
Aku akan menjadi buih..
Seperti putri duyung di dongeng itu, kelak aku akan menjadi buih dan membawa mati semua rahasia hatiku. Sebut aku pesimis, tapi sudah terlalu lama aku menunggu saat yang tepat untuk kebenaran itu. dan selama itu, aku melihat bagaimana benih-benih perasaanmu padanya pelan-pelan tumbuh hingga menjadi bunga yang indah.
Aku kalah bahkan jauh sebelum mulai angkat senjata. Kau ada di hidupku, tapi bukan untuk kumiliki. Kerjap mata indahmu hanya untuk dia dan selamanya itu tak akan berubah. Meski begitu, kenapa aku tidak berusaha berbalik dan mencari jalan keluar dari bayang-bayang dirimu?
Jika suatu hari kau menyadari perasaanku ini, kumohon jangan menyalahkan dirimu. Mungkin memang sudah begini takdir rasaku. Cintaku padamu tak akan pernah melambung ke langit ketujuh. Aku hanya akan membiarkan buih-buih kesedihanku menyaru bersama deburan ombak laut itu. Karena inilah pengorbanan terakhirku: membiarkanmu bahagia tanpa diriku....

Ini adalah buku kesekian karangan Windhy Puspitadewi yang nangkring di rak bukuku. Bagi saya pribadi, buku ini bertema seperti novel kebanyakan; mengangkat cinta, persahabatan dengan ‘bumbu’ cerita keluarga yang beragam. Trus, yang beda apa dong, sama novel atau teenlit ‘kebanyakan’?. Tentu ada yang berbeda. Setiap selesai membaca novel Windhy, saya selalu merasa (telah) mendapatkan sesuatu. Ia kerap mengutip pepatah kata, yang menurut saya two thumbs up alias keren. Saya selalu mengira mungkin Windhy memiliki semacam ingatan fotografik seperti salah satu tokoh perempuan di komik detektif Q.E.D (saya lupa nama tokohnyanya, kalau tidak salah Meg).
Ada satu hal lagi yang menarik. Hampir dalam setiap bukunya, Windhy selalu menghadirkan sosok karakter yang meski masih duduk di bangku SMA, bahkan SMP, tampil dengan sifat dan kepribadian yang dikemas secara dewasa. Saya pernah suatu kali setelah membaca bukunya yang berjudul Let Go, “masak anak SMP pikirannya udah sedewasa itu?!,” saya bergumam dengan dahi berkerut tentunya. Ya ya ya, perkara itu nyata atau tidak, toh ia telah berhasil mempengaruhi saya dalam setiap ceritanya.
Buku ini berkisah seputar persahabatan empat sekawan yang secara tidak sengaja bertemu di sekolah hari munggu. Sesungguhnya mereka adalah korban keisengan panitia MOS yang iseng mengerjai mereka; Rizki, Cristine, sepasang kakak adik, tapi duduk di satu kelas, Juno dan Arma.
Setiap tokoh dalam novel tersebut memiliki latar belakang keluarga yang berbeda. Rizky yang hidup dikeluarga yang pas-pasan dibesarkan oleh yayasan dan bekerja disebuah kios. Sedangkan Christine adalah seorang puteri dari seorang pengusaha yang mencalonkan diri menjadi gubernur Jawa Timur. Ia hidup lebih dari cukup, namun selalu merasa kesepian dirumahnya yang besar. Juno dan Arma adalah anak seorang dokter. Masing-masing karakter memiliki konflik ataupun cerita tersendiri dalam keluarganya.
Cerita ini berakhir dengan bahagia. Setelah lulus SMU, mereka semua berpisah dan mewujudkan impian mereka masing-masing. Christine yang bercita cita menjadi suka relawan UNICEF pindah ke New York di markas PBB sambil kuliah. Ia menikahi Derry, teman sekelasnya. Juno pun kuliah di salah satu Universitas Negeri di Yogyakarta jurusan Psikologi. Arma memutuskan kuliah di Jerman untuk belajar kedokteran. Sedangkan Rizki, ia bekerja di Jakarta di bagian kementrian RI.
Namun, seperti cerita kebanyakan, kisah dalam buku ini berakhir dengan happy ending. Karakter bagi setiap tokohnya kurang kuat dengan alur konflik yang mudah ditebak. Apapun itu, saya tetap suka novel-novel Windhy, terutama yang berjudul Confeito. Cinta mati saya dengan novel itu. Tapi alangkah kagetnya, saat saya menelusuri rak buku saya, novel Confeito tidak ada disana.
Siapa yang pinjem yaa..? #baladaanakkosyangsukapinjem-pinjembarang :(

3 komentar:

  1. Belum pernah baca karangan windy, udah terlanjur ngefans sama windry ramadhina :D. Eh, tapi udah lama loh aku ksengsem sama covernya yang ini.

    BalasHapus
  2. belum pernah baca yang ini. tp kalo tiap karakternya ada konfliknya, konflik utama di novel kepecah konsentrasinya ga, mba aulia? jadi penasaran

    BalasHapus
  3. Loh itu happy ending ya, mbak? Tapi kan Juno sama Rizky ngga bareng, di akhirnya juga Rizky-nya nangis, macem menyesal tapi memaksakan diri. Itu sebenernya udah masuk sad ending atau masih happy ending? (sekedar nanya, soalnya saya ngga ngerti) ._.

    BalasHapus