Kamis, 10 Oktober 2013

Impian di Atas Kertas



perahu kertas, dee
Judul               : Perahu Kertas
Penulis             : Dee
Penerbit           : truedee
Tahun              : Cetakan kedua, Agustus 2009
Halaman          : 444
ISBN               : 978979122778078

SINOPSIS:
Namanya Kugy. Mungil, penghayal, dan berantakan. Dari benaknya mengalir untaian dongeng indah. Keenan beleum pernah bertemu manusia seaneh itu...
Namanya Keenan. Cerdas, artistik, dan penuh kejutan. Dari tangannya, mewujud lukisan-lukisan magis. Kugy belum pernah bertemu manusia seajaib itu...
Dan kini mereka berhadapan diantara hamparan misteri dan rintangan. Akankah dongeng dan lukisan bersatu? Akankah hati dan impian mereka bertemu?

RESENSI:
Novel ini, kondisinya sudah ‘sedikit’ memprihatinkan. Beberapa halaman mulai lepas dan ujung-ujung kertas telah dimakan rayap. Novel ini memang beberapa kali berpindah tangan, untungnya selalu kembali. Sedangkan jejak rayap saya dapatkan karena lantai kamar kos saya terbuat dari kayu. Novel ini sudah berdiri di rak, namun siapa sangja jika rayap bisa bergerak naik. Huhuhuhu..
Suatu hari aku melihat iklan di Kompas seputar peluncuran novel baru Dewi Lestari atau terkenal dengan nama pena Dee yang berjudul Perahu Kertas. Aku hanya bergumam, melihat design sampulnya, aku pikir buku ini tak ubahnya cerita anak-anak. Namun, setiap melintas di Gramedia, mataku tetap saja tak bisa lepas dari buku berwarna dominan hijau tersebut. Hingga akhirnya temanku Nisa, bercerita bahwa kakak iparnya di Bali merekomendasikan buku itu.

Novel tersebut berkisah tentang bagaimana seseorang harus memperjuangkan impianya. Adalah Kugy, cewek tomboy, awut-awutan dan tidak bersahabat dengan make-up. Dibalik itu semua, Kugy sangat menjunjung impiannya sebagai pendongeng ulung. Ia tidak peduli, kalaupun cita-citanya sama sekali tak realistis. Dongeng adalah letupan api yang mendominasi seluruh hidupnya. Kugy juga mempercayai keperadaan Neptunus dan selalu menghanyutkan cerita-ceritanya dalam perahu kertas. Ia percaya, apapun airnya pasti akan bermuara ke laut. Percaya ato tidak. Beranjak dewasa, ia menyadari semua itu hanyalah dongeng karangan Karel, kakaknya.
Keenan, pelukis yang merasa mendedikasikan seluruh hidupnya untuk orang lain, Adri, sesosok ayah otoriter dan egois. Adri selalu antipati dengan hobi Keenan, padahal bakat itu ia warisi dari Lena, ibunya. Keenan dipertemukan oleh Kugy. Merasa cocok, keduanya kerap terlibat percakapan seputar cita-cita dan impian masing-masing. Kugy yang berambisi menjadi juru dongeng dan Keenan yang suatu saat berniat keluar dari rumah dan bangku kuliah untuk melukis sepanjang waktu.
Berbagai permasalahan saling bertaut hingga menemukan benang merah. Saat Kugy dan Keenan mulai memiliki ‘rasa’ dalam setia pertemuan, sedangkan Kugy adalah kekasih Ojos sejak SMA. Muncul ide mencomblangkan Keenan dengan Wanda yang diprakarsai oleh Noni dan Eko, sahabat karib Kugy sejak dulu. Belum lagi Kugy yang mulai menghindar dari geng midnight, pecinta bioskop tengah malam.
Keputusan Keenan meninggalkan rumah dan kuliah yang tersulut oleh maksud terselubung Wanda yang memasukkan lukisannya ke galeri Warsita. Tidak hanya itu, Wandapun menyamar sebagai orang lain yang membeli lukisan Keenan. Mendapati impiannya yang tenoda, Keenan pergi ke Ubud, Bali, tempat Pak Wayan yang merupakan teman lama Lena. Ia hanya membawa buku dongeng Kugy, Jenderal Pilik dan Pasukan Alit yang ia kerjakan saat aktif di Sakola Alit. Seperti Keenan yang menghilang entah kemana, Kugypun mulai menjauh dari Noni dan Eko. Ia mulai menforsir dirinya habis-habisan untuk segera menyelesaikan kuliah.
Semuanya semakin rumit. Tatkala muncul Remi dalam kehidupan Kugy. Begitu juga dengan keberadaan Ludhe yang mulai mengisi relung hati Keenan yang kosong. Keenanpun harus mengganti impiannya untuk meneruskan keberlangsungan perusahaan lantaran Adri terkena stroke. Selain itu, siapa sangka Pak Wayan memiliki kisah percintaan yang tragis dan menguras seluruh sari pati hidupnya.
Satu per satu mereka akan bertemu dalam satu rangkaian peristiwa yang apik. Setiap tokoh akan mengalami peristiwa tak terduga dan bermuara pada sebuah kesimpulan. Ini adalah perjalanan hidup manusia yang tak terpuaskan mengejar cita dan cinta. Hingga akhirnya mereka mengalami titik balik dan kembali dipertemukan dalam perjamuan tak terduga. Indah. Novel ini mengajarkan bagaimana seseorang harus mewujudkan mimpi dan cita-citanya, apapun proses yang harus dilaluinya.
Di mataku, Dee selalu berhasil menciptakan tokoh-tokoh yang dapat ku rekam di otak kiriku dengan sempurna. Seperti, tokoh Elektra Wijaya dan M-Pret dalam buku Petir, juga tokoh Kugy dan Keenan masih saja menari-nari di otakku. Serasa ingin menemui The Silver Tongue ato Si Lidah Perak dalam film Inkheart, agar keduanya keluar dari buku dan hadir di depanku. Syukurlah, hal itu tidak pernah terjadi karena sesungguhnya buku ini sudah di filmkan yang diperankan oleh Maudy Ayunda dan Adipati Dolken. Karakter mereka cukup mewakili.  
Buat para pecinta Dee, this novel recommended to read. Pada dasarnya, siapapun berhak untuk membaca. Menelusuri setiap kata-kata, seolah menyentil kita agar berani memupuk dan mempertahankan mimpi yang mulanya masih samar. Terus meneranginya hingga wujudnya benar-benar dapat diraba. Mencoba meyakini dan membuktikan apa yang tidak mungkin dimata orang lain. Selamat membaca, dengan membeli ataupun meminjam…☺

1 komentar:

  1. Dee ini salah satu penulis terkenal ya, sayangnya satupun saya belum membaca karyanya....;(

    BalasHapus